Saturday, April 3, 2010

Hikayat 1001 Malam | Malam Ke 589

Hikayat 1001 Malam ~ Melanjutkan tentang cerita Sindbad si pelaut yang sedang menuturkan kisah perjalanannya yang kelima di hadapan teman – temannya……

Dengan membawa ribuan butir kelapa, aku meninggalkan kota keradengan menaiki kapal laut bersama sang nahkoda. Aku mengarungi samudera melewati satu pulau ke pulau lain, dan dari satu lautan ke lautan lain, hingga akhirnya akupun tiba di kota basharah.

Tetapi, kota pelabuhan itu hanya kusinggahi untuk bebrapa saat saja, karena htiku sudah tak tahan menaggung rinduakan kampong halamanku sehingga aku memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan menuju baghdad.

Bukan main senangnya hatiku ketika aku tiba di Baghdad dan kembali berkumpul dengan ornag orang yang kucintai. Sebagian keuntungan yang kudapat dari penjualan barang dagangan yang kubawa dari pulau kera kusisihkan untuk kutabung, sementara sebagian lagi aku sedekahkan kepada anak – anak yatim dan fakir miskin serta kujadiakn hadiah untuk karib kerabat dan keluargaku.

Wallhi, rupanya Allah benar – benar ingin menganti semua yang telah hilang dariku dalm keempat perjalanan ku yang sebelumnya melalui keuntungan besar yang kudapat setelah aku menjual semua barang – barang yang kukumpulkan dalam perjalanan ku yang kelima itu. Aku juga mulai dapat melupakan segala sakit dan rasa lelah yang merajam tubuhku yang muncul akibat perjalananku yang baru lalu, karena kini aku telah berkumpul kembali dengan keluarga dan handai taulan yang sudah kutinggalkan untuk sekian lama.

“Akan tetapi ujar sindbad di ujung penuturannya, “Sekarang kalian makanlah dulu. Besok, insya Allah aku akan menceritakan kepada kalian mengenai apa yang kualami dalam perjalananku yang keenam yang baru kuceritakan tadi.”

Seusai jamuan, Sindbad si pelaut lalu mempersilahkan semua yang hadir untuk menyantap hidangan tersebut.

Seusai jamuan, Sindbad si pelaut memberikan hadiah khusus seratus mitqal emas kepada sahabatnya, Sindbad si kuli, sehingga membuat hati pemuda berbunga – bunga karena di sepanjang hidupnya, ia tak pernah meneriama uang sebanyaj itu. Dan setelah mengucapkan terima kasih Sindbad si kuli mohon diri untuk kembali kerumahnya.

Keesokan paginya, Sindbad si kuli menjadi orang pertama yang tiba di kediaman Sindbad si pelaut untuk mendengarkan lanjutan kisah yang akan di tuturkan oleh tuan rumah. Dan ketika Sindbad si kuli tiba di kediaman sahabatnya itu, Sindbad si pelaut telah siap menyambut kedatangannya dan kawan – kawan yang lain seperti ia lakukan pada hari – hari sebelumnya.

Sindbad si pelau langsung mempersilahkan sindbad si kuli untuk masuk ke dalam rumahnya. Kedua orang itu lalu bercakap – cakap memperbincangkan tentang berbagai hal, sementara beberapa orang tamu, mulai berdatangan untuk mendengarkan kelanjutan kisah perjalanan yang akan di tuturkan oleh sindbad si pelaut sembari menikmati jamuan yang di hidangkan oleh tuan rumah.

Setelah Sindbad merasa teman – temannya yang telah hadir cukup banyak, ia pun segera duduk dihadapan mereka dan mulai menceritakan perjalanan yang keenam.
“Teman – tenman sekalian…., Sindbad si pelaut memmulai ceritanya.

Seiring perjlanan waktu akupun mulai melupakan semua yang kualamipada perjalananku yang kelima. Segala kesenangan dan ketenangan yang ku temukan setelah kembali menetap di Baghdad telah membuatku begitu menikmati kehidupan yang baru. Kala itu, aku benar –benar merasa yakin bahwa aku takkan pernah meninggalkan tanah airku lagi.

Sampai pada suatu hari…

Ketika aku sedang duduk – duduk di depan rumahku, aku melihat sekelompok saudagar lewat di depan rumahku. Dari raut wajah letih yang mereka tunjukan, aku tahu betul bahwa para saudagar itu pasti baru saja kembali dari sebuah perjalanan jauh. Dan seketika itu pula tiba – tiba saja aku kembali teringat semua peristiwa yang kulalui dalam perjalananku yang lalu sehingga keinginanku untuk berniaga ke negeri – negeri yang jauh kembali muncul.
Dorongan kuat yang kurasakan di dalam hatiku akhirnya tak dapat kutahan lagi. Aku pun mulai membeli beberapa macam barang dagangan yang kuanggap laik jual dan tidak terlalu merepotkan jika harus kubawa dalam pelayaran. Dan setelah semuanya siap, akupun bertolak meninggalan Baghdad menuju Bashrah,

Di pelabujhan Bashrah aku melihat sebuah kapal dagangan yang amat besar dengan puluhan orang saudagar dengan segala barang dagangan merekatanpa menunda lebih lama lagi, aku segera meminta tempat kepada nahkoda dan kemudian memuat semua barang daganganku kedalam kapal tersebut.

Pagi dating lagi. Syahrazad menghentikan ceritanya

One response to “Hikayat 1001 Malam | Malam Ke 589”

Kolom ponsel said...

Cukup menarik, di tggu kelanjutanya...

Leave a reply